Malaysia Mosque with Muslim pray in Malaysia, Malaysian muslim with mosque religion concept
LPKAPNEWS.COM -Di tengah gemerlap malam-malam terakhir Ramadan, sebuah pertanyaan sering muncul di kalangan perempuan: bisakah mereka yang sedang haid atau nifas turut meraih malam seribu bulan itu?
Bagi sebagian, kondisi ini terasa seperti penghalang, terutama karena larangan melaksanakan salat dan puasa. Namun, pintu ibadah tak pernah benar-benar tertutup. Bahkan untuk perempuan haid dan nifas, Lailatul Qadar tetap menjadi harapan yang terbuka lebar.
Adh-Dhahhak, seorang ulama terkemuka, pernah ditanya oleh Juwaibir tentang peluang perempuan haid, nifas, musafir, hingga orang yang tertidur untuk meraih Lailatul Qadar. Dalam jawabannya yang dikutip oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’iful Ma’arif, ia berkata:
قَالَ جُوَيْبِرٌ: قُلْتُ لِلصَّحَاكِ: أَرَأَيْتَ النَّفْسَاءَ وَالْحَائِضَ وَالْمُسَافِرَ وَالنَّائِمَ لَهُمْ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ نَصِيبٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، كُلُّ مَنْ تَقَبَّلَ اللَّهُ عَمَلَهُ سَيُعْطِيهِ نَصِيبَهُ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Jubair berkata, aku bertanya kepada Adh-Dhahhak: bagaimana pendapatmu tentang perempuan nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur, apakah mereka mendapat bagian dari Lailatul Qadar? Ia menjawab: ya, setiap orang yang amalnya diterima Allah akan diberi bagian dari Lailatul Qadar.”
Pernyataan ini menjadi angin segar. Lailatul Qadar bukanlah eksklusif bagi mereka yang bisa salat atau beriktikaf di masjid. Keberkahan malam itu bergantung pada penerimaan amal oleh Allah, bukan semata pada jenis ibadah tertentu.
Perempuan haid dan nifas memang tidak dapat melaksanakan salat atau puasa, tetapi pintu ibadah lain tetap terbuka luas.
Berikut adalah beberapa amalan yang bisa mereka kejar untuk menyambut malam mulia itu.
1. Memperbanyak Istighfar
Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menegaskan bahwa menghidupkan malam 10 hari terakhir Ramadan adalah sunah untuk mengejar Lailatul Qadar. Salah satu caranya adalah dengan istighfar, terutama pada waktu sahur. Di antara bacaan yang dianjurkan adalah Sayyidul Istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
Keutamaan zikir ini luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).
2. Bersedekah
Bersedekah di 10 hari terakhir Ramadan adalah amalan mulia yang bisa dilakukan siapa saja, termasuk perempuan haid dan nifas. Allah berfirman:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
3. Membaca Al-Qur’an
Perempuan haid dan nifas tetap bisa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an melalui aplikasi atau rekaman, lalu merenunginya. Abdullah bin Mas’ud berkata:
تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلَاوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ
“Pelajarilah Al-Qur’an ini, karena kalian diganjar dengan membacanya, setiap hurufnya 10 kebaikan.” (Riwayat Ad-Darimi).
Rasulullah SAW juga bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya.” (HR. Muslim). Mendengarkan dan meresapi maknanya tetap menjadi jalan menuju keberkahan.
4. Berzikir
Zikir adalah ibadah ringan di lisan, namun berat di timbangan amal. Rasulullah SAW bersabda:
مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَفَّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
“Tidak ada seseorang di muka bumi yang mengucapkan ‘La ilaha illallah, Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah’ melainkan dosa-dosanya dihapus meski sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad).
5. Berdoa
Doa adalah senjata seorang mukmin, dan pada Lailatul Qadar, doa menjadi lebih istimewa. Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang tepat di malam tersebut, dan beliau menjawab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
“Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku.”
Doa ini sederhana namun penuh makna, menjadi kunci memohon ampunan di malam yang penuh rahmat.
6. Membantu Sesama
Membantu orang lain, seperti menyiapkan hidangan berbuka atau meringankan beban saudara, adalah ibadah yang tak kalah agung. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani). Bahkan, membantu sesama bisa melebihi keutamaan iktikaf sebulan di Masjid Nabawi.
Lailatul Qadar adalah anugerah universal bagi setiap hamba yang ikhlas beribadah, termasuk perempuan haid dan nifas. Larangan salat bukan akhir dari perjuangan mereka, melainkan awal dari kreativitas dalam beribadah.
Perempuan haid dan nifas masih bisa istighfar, sedekah, zikir, doa, hingga membantu sesama, mereka tetap bisa menyentuh keagungan malam itu. Maka, di sela-sela malam Ramadan, mari kita sambut Lailatul Qadar dengan hati yang lapang dan amal yang tulus, karena rahmat Allah tak pernah memandang batas.
(Redaksi)