YOGYAKARTA, LPKAPNEWS.COM – Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada (14/3) dalam Silaturahmi dan Buka Bersama Departemen Radiologi 2025 Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring.

Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan proses transformasi yang dahsyat, karena dapat mengubah masyarakat jahiliyah menjadi berperadaban maju. 

Kejahilan yang dimaksud oleh Haedar seperti menyembah berhala yang diciptakan sendiri, merendahkan kaum perempuan, menyelesaikan masalah dengan pertumpahan darah, dan ribawi dalam ekonomi.

Risalah yang dibawa Nabi Muhammad bahkan mampu mengubah Madinah menjadi kota yang mencerahkan. Bahkan dari situ kemudian melahirkan peradaban dunia Islam yang menyinari dunia, kemudian ikut membidani peradaban Barat modern. 

“Itulah proses transformasi dari agama. Artinya agama hadir tidak hanya secara normatif mengatur hubungan kita dengan Allah, bahkan apapun agamanya….. Tetapi dalam hal ini Agama Islam hadir untuk melakukan transformasi peradaban,” katanya.

Selain transformasi sosial – membangun peradaban maju. Perintah yang dikandung dalam risalah kenabian juga menjadi proses dalam transformasi keruhanian, salah satunya seperti yang ada dalam perintah puasa.

Puasa menurutnya tak sekadar mengubah jam makan dan aktivitas hidup lain, tapi juga proses mengubah diri dengan seluruh unsur kalbu, akal pikiran, dan habituasi ke arah yang lebih baik untuk menjadikan manusia yang lebih bertakwa.

Haedar berpesan sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad, jangan sampai puasa yang ditunaikan hanya menghasilkan lapar dan haus. Sebab puasa adalah pengendali hawa nafsu manusia.

Mengutip Imam Ghozali, Haedar menyebutkan ada dua jenis puasa yaitu yang khusus dan super istimewa. Puasa khusus itu seperti puasa yang dijalankan kebanyakan muslim, tapi puasa super istimewa itu mindfull fasting.

“Mindfull fasting itu puasa dengan penuh kesadaran tentang tubuh kita dan jiwa agar kita mampu berpuasa secara transformatif, mengubah jiwa kita agar tetap memiliki kalbun salim, pikiran kita agar tetap ahlu salim, kemudian sikap dan tindakan kita menjadi salih,” katanya.

Transformasi ruhani dari perjalanan ibadah puasa, diharapkan Haedar tidak hanya berdampak baik pada diri sendiri, tetapi juga menjadi fondasi yang kokoh dalam menebar kebaikan di tengah-tengah kemanusiaan global.

Eksistensi seorang muslim, katanya, harus memberi bekas untuk nilai maslahat dan manfaat dalam membangun peradaban maju umat manusia. Baik itu dilakukan melalui hal-hal besar maupun yang kecil secara konsisten, (Sumber, M Or. Id)